Pemulung Kata
Minggu, 29 Maret 2020
CERPEN
Minggu, 15 Maret 2020
Sabtu, 08 April 2017
Penghujung Tahun
Kau tau bagaimana di posisi ini?
Kau tau seberapa kuat aku bertahan?
Kau tau mengapa aku masih tetap berdiri?
Kau tau apa yang aku rasa?
Lalu apakah kau tau, siapa aku sebenarnya bagi dirimu?
Hanya itu,
Kini aku merajut janji yang tergelar sepanjang diri ini mengenalmu.
Sampai penghujung tahun ini
Aku ingin lengkungan pelangi nampak jelas di hidupku
Kamis, 12 Mei 2016
Mencari cahaya dan tawa
Keluarga
Sebuah kata yang berharga
Penuh makna yang bernyawa
Tapi aku...
Aku tak tau arti itu
Jika keluarga adalah cahaya
Maka aku buta dibuatnya
Jika keluarga adalah tawa
Maka aku duka di dalamnya
Tanpa cahaya
Tanpa tawa
Jika malam tanpa bintang
Apa indahnya
Jika wajah tanpa senyum
Apa manisnya
Hidup akan pahit
Butiran hujan akan jatuh
Dan ribuan kunang-kunang akan redup
Sunyi
Sepi
Itu kawanku
Hanya denting sang waktu
Yang membelengguku
Dan celotehan jangkrik
Yang mengejekku
Ibu...
Ayah...
Siapa mereka?
Di mana mereka?
Apa ini keluarga?
Tanpa mereka mengapa aku ada?
Jika keluarga tempat berlabuh dan mengadu
Tapi aku
Hanya kapal
Yang dibekukan sang waktu
Entah kapan jarum itu menunjuk ke arahku
Dan sang waktu bersahabat denganku
Hingga menjawab pertanyaan ku
Tentang arti 'keluarga' itu
Senin, 09 Mei 2016
Hanya Aku
Ku harap hanya aku yang seperti ini, yang dipermainkan oleh waktu. Setiap hari menunggu datangnya pagi atau gelapnya malam yang tetap sunyi.
Aku suka membaca, terlebih kisah hidup dan perjalanan cinta. Mengapa aku suka? Karena aku bisa belajar darinya. Aku paham akan arti hidup, tapi aku tak paham arti kata realita. Atau aku sendiri yang memang tak mau memahaminya. Entahlah! Yang ku tau semua sudah berjalan menjadi rangkaian cerita yang merantai realita.
Jika aku ditanya, apakah aku menyesal dengan apa yang terjadi? Aku akan menjawabnya dengan lantang "Tidak...!" aku tidak menyesalinya sama sekali. Walaupun pada saat itu aku belum memikirkannya sepanjang ini. Sepanjang waktu yang mempermainkanku. Tapi aku tetep menjawab bahwa tak ada setitik penyesalan pun yang jatuh dari hati ini.
Mungkin waktu selalu menertawakanku, seperti ribuan mulut yang berceloteh didinding-dinding yang tak bernyawa. Tapi aku tetap pada pendirianku yang percaya tentang arti sebuah janji.
Yah.... Aku memang wanita biasa yang tak memiliki kata istimewa. Karena aku sendiri belum bisa mengartikan kata itu. Dibandingkan wanita lain, aku tetaplah aku. Seorang wanita yang tak cakap rupa berusaha mencari arti kata istimewa. Tapi mungkin aku lebih tau dan paham akan arti sebuah janji. Karena itu yang aku tunggu sampai detik ini. Janji yang membuatku tetap berdiri tegap di persimpangan jalan, janji yang membuatku tetap tersenyum di bawah rintik hujan, dan janji yang bisa membuatku berjalan menyusuri kehidupan. Jika orang berkata apa arti sebuah janji? Aku akan berkata "lihat diriku!".
Apa pun yang ditertawakan dari diriku, aku tak akan bergeming. Karena jika aku tak bisa menutup mulutnya, maka lebih baik aku yang menutup kupingku. Itu lebih baik! Aku paham apa yang menjadi keputusanku, aku paham lebih dari siapapun. Aku pun paham resiko apa yang aku dapat dari hal itu. Jika orang tak menghargainya maka cukup diriku yang menghargai diri ini. Karena tak ada yang lebih tau dari diri ini. Apakah ada yang tau bagaimana hujan menitik setiap malam? bagaimana ombak bergulung hingga menjulang tinggi? Ataukah kilatan petir yang menghujam langit? Tak ada yang tau.
Semuanya begitu berat... Tapi aku tetaplah aku. Yang harus bisa bersabar di antara tawa riuh sang waktu. Terkadang menjadi batu, terkadang menjadi hujan, atau menjadi kerlip bintang di langit. Jika sang waktu sadar dan mau memahamiku mungkin ia akan menjawab janji yang terpatri 6 tahun lalu.
Di bawah lampu taman yang redup kau membuka episode-episode hidupmu denganku. Tanpa rasa canggung sedikitpun kau mengungkpkan apa yang menjadi alasan keputusan hidupmu. Ketika itu, aku cukup terkejut namun kau menggenggam erat tanganku. Dan bertanya "apakah kamu mau menunggu ku selama 2 tahun?"
Entah tak ada sedikit keraguan dalam diri ini, aku pun menjawabnya dengan yakin bahwa aku mau menunggumu.
Itu lah jawaban ku. Angin pun menyambutnya dengan hembusan pelan.
Tidak hanya 2 tahun aku menunggumu, sampai saat ini aku masih tegap berdiri menunggu lengkungan pelangi itu.
Minggu, 14 Februari 2016
TAKDIR
"Takdir" satu kata yang penuh dengan makna. Terkadang aku bertanya akan sebuah takdir. Apa itu takdir? Bagaimana takdir itu? Banyak buku dan lisan yang memaparkan akan sebuah takdir. Dan semuanya mengatakan bahwa itu adalah jalan hidup seseorang. Lalu apakah ini adalah takdirku? Selalu ditempatkan dijalan yang tak berujung. Tak mungkin aku berbalik arah, karena sudah terlalu jauh kaki ini melangkah. Aku tak pernah menyesali akan takdir yang ku terima, namun hanya waktu yang terkadang mempermainkanku. "Tik tok tik tok tik tok" ia mengejekku. Walaupun aku berusaha menutup kedua telingaku, tapi suara itu tetap terdengar. Tidakkah cukup aku menyusuri jalan ini? Atau seberapa jauh jalan yang harus kutapaki?
Aku hanya makhluk biasa yang punya rasa iri ketika melihat orang lain menemukan ujung jalannya. Dan aku juga punya rasa sedih, ketika aku sendiri tak menemukan ujungnya. Aku rindu dengan diriku yang dulu, yang selalu bisa mencari jalan yang berujung. Tapi kini semua jalan tertutup untuk ku.
Kini aku sendirian, berusaha untuk berjalan walau tertatih. Menyusuri jalan-jalan yang tak berujung.
Sebuah harapanlah yang sampai saat ini membuatku bisa bertahan. Harapan yang kudekap dan kusimpan dalam raga ini. Aku pasti bisa menghadapi 'takdir' ini.