Senin, 09 Mei 2016

Hanya Aku

Ku harap hanya aku yang seperti ini, yang dipermainkan oleh waktu. Setiap hari menunggu datangnya pagi atau gelapnya malam yang tetap sunyi.
Aku suka membaca, terlebih kisah hidup dan perjalanan cinta. Mengapa aku suka? Karena aku bisa belajar darinya. Aku paham akan arti hidup, tapi aku tak paham arti kata realita. Atau aku sendiri yang memang tak mau memahaminya. Entahlah! Yang ku tau semua sudah berjalan menjadi rangkaian cerita yang merantai realita.
Jika aku ditanya, apakah aku menyesal dengan apa yang terjadi? Aku akan menjawabnya dengan lantang "Tidak...!" aku tidak menyesalinya sama sekali. Walaupun pada saat itu aku belum memikirkannya sepanjang ini. Sepanjang waktu yang mempermainkanku. Tapi aku tetep menjawab bahwa tak ada setitik penyesalan pun yang jatuh dari hati ini.
Mungkin waktu selalu menertawakanku, seperti ribuan mulut yang berceloteh didinding-dinding yang tak bernyawa. Tapi aku tetap pada pendirianku yang percaya tentang arti sebuah janji.
Yah.... Aku memang wanita biasa yang tak memiliki kata istimewa. Karena aku sendiri belum bisa mengartikan kata itu. Dibandingkan wanita lain, aku tetaplah aku. Seorang wanita yang tak cakap rupa berusaha mencari arti kata istimewa. Tapi mungkin aku lebih tau dan paham akan arti sebuah janji. Karena itu yang aku tunggu sampai detik ini. Janji yang membuatku tetap berdiri tegap di persimpangan jalan, janji yang membuatku tetap tersenyum di bawah rintik hujan, dan janji yang bisa membuatku berjalan menyusuri kehidupan. Jika orang berkata apa arti sebuah janji? Aku akan berkata "lihat diriku!".
Apa pun yang ditertawakan dari diriku, aku tak akan bergeming. Karena jika aku tak bisa menutup mulutnya, maka lebih baik aku yang menutup kupingku. Itu lebih baik! Aku paham apa yang menjadi keputusanku, aku paham lebih dari siapapun. Aku pun paham resiko apa yang aku dapat dari hal itu. Jika orang tak menghargainya maka cukup diriku yang menghargai diri ini. Karena tak ada yang lebih tau dari diri ini. Apakah ada yang tau bagaimana hujan menitik setiap malam? bagaimana ombak bergulung hingga menjulang tinggi? Ataukah kilatan petir yang menghujam langit? Tak ada yang tau.
Semuanya begitu berat... Tapi aku tetaplah aku. Yang harus bisa bersabar di antara tawa riuh sang waktu. Terkadang menjadi batu, terkadang menjadi hujan, atau menjadi kerlip bintang di langit. Jika sang waktu sadar dan mau memahamiku mungkin ia akan menjawab janji yang terpatri 6 tahun lalu.
Di bawah lampu taman yang redup kau membuka episode-episode hidupmu denganku. Tanpa rasa canggung sedikitpun kau mengungkpkan apa yang menjadi alasan keputusan hidupmu. Ketika itu, aku cukup terkejut namun kau menggenggam erat tanganku. Dan bertanya "apakah kamu mau menunggu ku selama 2 tahun?"
Entah tak ada sedikit keraguan dalam diri ini, aku pun menjawabnya dengan yakin bahwa aku mau menunggumu.
Itu lah jawaban ku. Angin pun menyambutnya dengan hembusan pelan.
Tidak hanya 2 tahun aku menunggumu, sampai saat ini aku masih tegap berdiri menunggu lengkungan pelangi itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar